Sabtu, 29 Juni 2013

Macam - macam Tauhid



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah:

التوحيد هو إفراد الله بالعبادة التي خلق الله العالم لأجلها
Tauhid adalah mengesakan Allah dengan beribadah kepadaNya semata yang merupakan tujuan penciptaan alam semesta ini.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Maksudnya, agar manusia dan jin mengesakan Allah dalam beribadah dan mengkhususkan kepadaNya dalam berdo’a.

Tauhid berdasarkan Al-Qur’anul Karim ada tiga macam:

1. TAUHID RUBUBIYYAH

هو الاعتراف بأن الله هو الرب و الخالق، و قد اعترف بهذا الكفار ، و لم يدخلهم ذلك في الإسلام
Yaitu pengakuan bahwa sesungguhnya Allah adalah Rabb dan Maha Pencipta. Orang-orang kafir pun mengakui macam tauhid ini, tetapi pengakuan tersebut tidaklah menjadikan mereka tergolong sebagai orang Islam.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir): “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”.” (QS. Az-Zukhruf: 87)

Berbeda dengan orang-orang komunis, mereka mengingkari keberadaan Rabb. Dengan demikian, mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyyah.

2. TAUHID ULUHIYYAH

هو توحيد الله بأنواع العبادات المشروعة ، كالدعاء و الاستعانة و الطواف و الذبح و النذر و غيرها
Yaitu mengesakan Allah dengan melakukan berbagai macam ibadah yang disyari’atkan. Seperti berdo’a, memohon pertolongan kepada Allah, thawaf, menyembelih binatang qurban, bernadzar dan berbagai ibadah lainnya.”

Macam tauhid inilah yang diingkari oleh orang-orang kafir. Dan ia pula yang menjadi sebab perseteruan dan pertentangan antara umat-umat terdahulu dengan para rasul mereka, sejak Nabi Nuh ‘alaihis salam hingga diutusnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam banyak suratnya, Al-Qur’anul Karim sering memberikan anjuran soal tauhid uluhiyyah ini. Di antaranya, agar setiap muslim berdo’a dan meminta hajat khusus kepada Allah semata. Dalam surat Al-Fatihah misalnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Maksudnya, khusus kepadaMu (ya Allah) kami beribadah, hanya kepadaMu semata kami berdo’a dan kami sama sekali tidak memohon pertolongan kepada selainMu.

Tauhid uluhiyyah ini mencakup masalah berdo’a semata-mata hanya kepada Allah, mengambil hukum dari Al-Qur’an, dan tunduk berhukum kepada syari’at Allah. Semua itu terangkum dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan  (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Thaha: 14)

3 TAUHID ASMA’ WA SHIFAT

هو الإيمان بكل بكل ما ورد في القرآن الكريم و الحديث الصحيح ، من صفات الله التي وصف بها نفسه ، أو وصف بها رسوله صلى اللهعليه و سلم
Yaitu beriman terhadap segala apa yang terkandung dalam Al-Qur’anul Karim dan hadits shahih tentang sifat-sifat Allah yang berasal dari penyifatan Allah atas DzatNya atau penyifatan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.”

Beriman kepada sifat-sifat Allah tersebut harus secara benar, TANPA ta’wil (تأويل /penafsiran), tahrif (تحريف/penyimpangan), takyif (تكييف /visualisasi, penggambaran), ta’thil (التعطيل /pembatalan, penafian), tamtsil (التمثيل /penyerupaan), tafwidh (تفويض /penyerahan, seperti yang banyak dipahami oleh manusia) .

Misalnya tentang sifat Al-Istiwa‘ (الاستواء/bersemayam di atas), An-Nuzul (النزول /turun), Al-Yad (اليد/tangan), Al-Maji’ (المجيء /kedatangan) dan sifat-sifat lainnya, kita menerangkan semua sifat-sifat itu sesuai dengan keterangan ulama salaf. Al-Istiwa’ (الاستواء) misalnya, menurut keterangan para tabi’in sebagaimana yang ada dalam Shahih Bukhari berarti Al-’Uluw wal Irtifa’ (العلو و الارتفاع /tinggi dan berada di atas) sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah . Allah berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syuura: 11)

Maksud beriman kepada sifat-sifat Allah secara benar adalah dengan TANPA hal-hal berikut ini:

1. Tahrif (penyimpangan): Memalingkan dan menyimpangkan zhahir-nya (makna yang jelas tertangkap) ayat dan hadits-hadits shahih pada makna lain yang batil dan salah. Seperti istawa (استوى /bersema-yam di tempat yang tinggi) diartikan istaula (استولى /menguasai).

2. Ta’thil (pembatalan, penafian): Mengingkari sifat-sifat Allah dan menafikannya. Seperti Allah berada di atas langit (على السماء), sebagian kelompok yang sesat mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat (في كل مكان).

3. Takyif (visualisasi, penggambaran): Menvisualisasikan sifat-sifat Allah. Misalnya dengan menggambarkan bahwa bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy itu begini dan begini. Bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy tidak serupa dengan bersemayamnya para makhluk, dan tak seorang pun yang mengetahui gambarannya kecuali Allah semata.

4. Tamtsil (penyerupaan): Menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukNya. Karena itu kita tidak boleh mengatakan, “Allah turun ke langit, sebagaimana turun kami ini”. Hadits tentang nuzulnya Allah (turunnya Allah) ada dalam riwayat Imam Muslim (*).

Sebagian orang menisbatkan tasybih (penyerupaan) nuzul ini kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ini adalah bohong besar. Kami tidak menemukan keterangan tersebut dalam kitab-kitab beliau, justru sebaliknya, yang kami temukan adalah pendapat beliau yang menolak tamtsil dan tasybih.

5. Tafwidh (penyerahan): Menurut ulama salaf, tafwidh hanya pada al-kaif (الكيف /hal, keadaan) tidak pada maknanya. Al-Istiwa’ misalnya berarti al-’uluw (العلو /ketinggian), yang tak seorang pun mengetahui bagaimana dan seberapa ketinggian tersebut kecuali hanya Allah.

Sedangkan tafwidh (penyerahan) menurut Mufawwidhah (orang-orang yang menganut paham tafwidh) adalah dalam masalah keadaan dan makna secara bersamaan. Pendapat ini bertentangan dengan apa yang diterangkan oleh ulama salaf seperti Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, Rabi’ah guru besar Imam Malik dan Imam Malik sendiri. Mereka semua sependapat bahwa, “Istiwa’ (bersemayam di atas) itu jelas pengertiannya, bagaimana cara/keadaannya itu tidak diketahui, iman kepadanya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.”



(*) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ينزل ربنا تبارك و تعالى كل ليلة إلى سماء الدنيا
Rabb kita turun pada setiap malam ke langit dunia.” (HR. Bukhari: 1145 dan Muslim: 758)

Maraji’: Minhaj Al-Firqoh An-Najiyyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar